Ibu jika tiada diri mu, mungkin akupun tak ada didunia ini. Ibu!
tak bisa ku membalas setetes air susu yang kau beri untuk ku, juga tak bisa ku membalas pengorbanan dan kasih sayang yang kau beri untuk ku.
Ibu 9 bulan kau mengandungku. Melahirkan bukanlah hal yang mudah. Tetes demi tetes keringat terjatuh dari raut wajahmu yang cantik. Ibu Tak pernah kau berkata kasar kepada ku. Menjaga diriku dalam rahim mu tak semudah yang ku kira. Kau berjalan dengan sungguh pelan hanya demi keselamatan ku. Kau juga yang melahirkan ku. Kau rela bertarung melawan maut hanya demi keselamatan anak dalam kandungan mu. Ibu kau juga yang membesarkan diriku. Kau dengan sabar membimbing ku. Kau rela menahan tidurmu hanya demi diriku, kau bagai pahlawan yang rela mati asalkan kemerdekan ditangan kami. Menahan sakit saat melahirkan bukanlah hal yang mudah! Ibu tak bisa ku membalas perjuangan dan pengorbanan yang pernah kau beri untuk ku. Yang bisa ku beri hanyalah doa disetiap sholatku.
Ibu terimakasih atas segala hal yang pernah kau lakukan untuk ku.
Tak pernah kau membenci hingga mencaci diri ku. Saat dingin kau datang dan menghangatkan tubuhku. Dalam peluk mu aku tertidur! Dalam senyum mu aku bahagia! Dalam sedih mu aku menangis!
Ibu sejuta kasih tlah kau beri. Ibu tanpa dirimu aku mati!
Diary Vidia
My book
Selasa, 23 Oktober 2018
Surgaku di telapak kaki ibuku
Senin, 03 September 2018
Guruku pahlawan tanpa jasa
Aku sayang guru. Guru itu orang tua kedua ku, yang mengajari ku banyak hal. Guru itu bagaikan ibuku yang ada dirumah. Dia penuh kesabaran dan kegigihan dalam membimbing ku, sejak aku belum tau huruf A sampai kini aku telah pandai membaca. Waktu aku belum tau angka 1 hingga kini aku telah pandai menghitung. Dia tak pernah lelah dalam membimbingku. Dia juga tak pernah bosan dalam mengajari ku dan memberikan ilmunya kepada ku. Dia itu pahlawan tanpa jasa dia yang mengajari ku untuk selalu jujur dalam berbagai hal, dia juga yang mengajari ku untuk selalu saling menghormati baik dia lebih tua dari aku,maupun dia yang lebih mudah dari ku. Dia juga yang mengajarkan aku untuk selalu semangat dalam berbagai hal tanpa harus mengeluarkan kata menyerah. Guru itu bagai air yang membasahi tanah, bagai matahari yang menyinari bumi. Guru itu pahlawan, dia yang mengajari, membimbing, hingga melatih.
Tiada yang bisa ku berikan kepadanya. Hanya doa yang dapat ku berikan padanya atas semua pengorbanan yang pernah dia lakukan. Tapi atas pengorbanannya itu, dia tak pernah meminta apapun. Dia hanya ingin melihat kesuksesan berada di tangan murid-muridnya. Saat libur, aku tak pernah ingin keluar daru rumah seperti teman-teman sebaya ku yang lain yang menghabiskan liburan mereka dengan bermain. Aku hanya di rumah dan menghabiskan waktu liburan dengan membaca dan menulis. Aku sebenarnya ingin bermain dengan teman-teman sebaya ku, tapi aku sadar waktu itu emas kalo di sia-siakan begitu saja pasti tak ada manfaatnya. Maka karena itu saat libur aku hanya menghabiskan waktu di rumah untuk membaca dan menulis.
"Vidia? kamu ngak keluar buat maen? Atau ngumpul-ngumpul bareng sama temen-temen kamu gitu?" kata mama
"Ngak aa lebih baik aku dirumah aja dan belajar, membaca,dan menulis." jawab ku
"Hmmm." kata ibu dengan tersenyum
***
Waktu itu aku yang menduduki
bangku kelas 3 SMP, berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya. Saat lonceng istirahat berbunyi aku hanya menghabiskan waktu diperpustakaan untuk membaca sekaligus menghabiskan jam istirahat. Dan soal uang saku yang di berikan mama buat jajan, aku tabung. Karena aku pernah membaca salah satu buku yang ada di perpustakaan, dan di dalam buku itu ada tulisan yang mengatakan "hemat pangkal kaya". Dari situlah aku sadar bahwa jika aku hemat mungkin aku bisa kaya, dan jika aku kaya otomatis aku bisa membuat kedua orang tua ku untuk pergi berhaji ke tanah suci (Mekah). Kemudian sejak saat itu, aku mulai membawa bekal dari rumah dan uangnya aku tabung. Aku ingin kedua orang tua ku pergi ke tanah suci.
Terimakasih guru karena kamulah aku sekarang mengerti akan berbagai hal. Berkat dirimu lah aku sekarang bisa berhemat dan menabung. Dan uang yang aku tabungpun itu, akan ku berikan kepada kedua orang tuaku disaat mereka kesusahan. Sekarang aku bisa uang ku saat mereka butuh. Walaupun uang yang aku beri kepada mereka belum seberapa, tapi aku sudah bahagia karena aku bisa membantu mereka.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Minggu, 02 September 2018
Hujan Kenangan
Aku senang dengan hujan panas. Hujan yang mengundang pelangi datang bersinar di langit yang biru. Yang datangnya tanpa di undang langsung membasahi tanah yang gersang. Pulangnya juga tidak di antar. Aku senang dengan hujan, dia selalu menemani hari-hari ku. Sifatnya yang datang lalu pergi, terkadang membuat diriku kesal. Karena baru beberapa saat melihat pelangi yang indah berwarna di langit biru dan langsung menghilang saat hujan itu pulang.
Setiap kali hujan panas datang, aku selalu berlari keluar rumah dan melihat pelangi. Walaupun terkadang ibu memarahi ku. Kata ibu hujan panas bisa buat kita demam, flu, dan lain-lain. Yaa benar! Aku sendiripun pernah merasakannya. Waktu itu aku yang ingin pulang kerumah kehujanan, dan hujan itupun hujan panas yang membuat aku demam tinggi dan flu. Tapi, walaupun begitu aku tak pernah benci akan hujan karena hujan adalah rezeki yang di turunkan oleh Allah.
Mengapa hujan itu termasuk rezeki? Karena jika tiada hujan semua tanaman akan mati, dan jika tiada hujan mungkin semua pohon juga tidak bisa hidup. Maka karena itu, jangan pernah membenci hujan karena jika tiada hujan dunia bagaikan tanah tanpa air.
Setiap kali hujan datang, ibu ku hanya tersenyum lebar melihat aku yang hanya duduk di sofa dan membaca buku. Waktu itu aku saat gemar dengan buku LASKAR PELANGI. Waktu itu aku hanya gemar membaca tapi tidak dengan menulis, tapi alhamdulillah sekarang aku jadi gemar menulis. Aku yang dulu suka keluyuran dan tidak pernah ingin belajar, bahkan jika aku kesekolah, aku sering bolos. Tapi ayahlah yang menyadarkan dan membangunkan aku dari tidur ku yang sangat lelap.
Karena ayahlah aku sadar, bahwa pelangi' takan indah jika tiada hujan. Kata-kata ayah itulah yang membuat aku ingin bangun dari tidur ku. Aku tahu maksud dari perkataan ayah itu, kata ayah pelangi takan indah jika tiada hujan. Kata-kata ayah itu selalu teringat di pikiranku. Setiap kali hujan datang, saat itu juga kata-kata ayah teringat di pikiranku.
Waktu itu ayah jatuh sakit. Dia hanya berpesan kepadaku.
"Safa kamu harus selalu belajar tanpa ada kata malas." kata ayah
***
Waktu itu aku yang menduduki kelas 2 SMA, sempat terhasut oleh teman-teman yang menjerumuskan aku kedalam pergaulan bebas. Aku yang dulunya tak pernah meninggalkan salat,kini tak sudi lagi menginjakkan kaki ku yang indah ini di kain sajadah.
***
"Safa kamu mau ngak? Aku kenalin ke temen aku?" kata Rina
"Temen yang mana ya Rin?" jawabku
"Ntar aku pangilin dlu orangnya. Bii ayo sini!" kata Rina
"Iya ada apa Rin?" kata Tobi
"Ni kenalin temen aku namanya Safa." kata Rina
"Wahh cantik banget!" kata Tobi
"Kenalin aku Tobi nama kamu siapa?" kata Tobi
"Nama aku Safa." jawab ku
"Jutek amat." kata Tobi
"Kamu sekolah dimana Safa?" tanya Tobi
"SMA Garuda." jawab ku
"Ohhhok!" jawab Tobi
"Kita ngobrol disitu aja yuk!" kata Tobi
"Boleh." jawab ku
"Rin aku kesana dulu ya!" kata ku
"Dimana Tobi?" tanyaku
"Di taman aja. Ayo duduk di situ aja!" kata Tobi
"Boleh." jawab ku
"Jadi kamu asli anak mana?" tanya Tobi
"Aku Yogyakarta tapi sekarang tinggal di sini." jawab ku
"Oh gitu." kata Tobi
"Terus udah punya pacar belum?" tanya Tobi
"Aku single." jawab ku
"Ohh bagus dong kalo gitu. Terus kamu mau ngak jadi pacar aku?" tanya Tobi
"Hmmmmmm." jawab ku
(Hujan panaspun mulai turun. Tik,tik,tik suara atap di taman. Tepatnya tempat yang aku duduki. Kata-kata ayah kembali teringat di pikiranku.)
"Gimana Fa? Kamu mau ngak jadi pacar aku?" tanya Tobi sekali lagi
"Hmmm. Sory Bi aku ngak bisa! Aku masih pengen serius dalam dunia sekolah dan karier." jawab ku
"Tapi Faa? Aku janji ngak bakalan gangguin kamu dalam berkarier." kata Tobi
"Sory sekali lagi Bii aku ngak bisa! aku udah punya prinsip hidup. Kalo aku belum sukses dalam berkarier aku ngak bakalan pacaran." jawab ku
"Tapi Faa? Aku udah lama nyimpan perasaan ke kamu. Sebenarnya aku Muhammad Tobi Rama, kakak kelas kamu. Aku juga yang pernah minta nomor telepon kamu tapi kamu ngak ngasi." jawab Tobi
"Jadiii' kamu Tobi Rama? Yang paling di kagumi cewek-cewek di sekolah?" tanya ku
"Yaah kamu bener! Itu aku. Tapi asal kamu tahu waktu kamu mendaftar buat masuk ke sekolah SMA Garuda, aku jatuh cinta saat pandangan pertama. Jadi aku minta tolong ke Rina buat kenalin aku sama kamu." jawab Tobi
(Perlahan-lahan hujan mulai reda tapi aku tetap ke prinsip awal ku itu. Sukses dalam berkarier itu yang paling utama!)
"Sekali lagi maaf aku ngak bisa! Kamu cari cewek lain aja." kata ku
"Tapi Faa? Aku cintanya ke kamu!!! Aku ngak bisa ngebohongin perasaan ku." jawab Tobi
"Sory aku ngak bisa." jawab ku
"Tapiii! Okk aku janji aku bakalan nungguin kamu sampe kamu mau nerima aku buat jadi pacar kamu. Aku janji!" kata Tobi
"Udah selesai Fa? Bi? Bentar lagi udah mau hujan lagi." kata Rina
"Udahh kok!" jawab ku
"Tobi aku duluan ya, aku masih ada urusan soalnya" kata ku
"Aku temenin ya Fa!" kata Tobi
"Ngak usah, aku bisa sendiri kok!" jawab ku
"Yaudah kalo gitu." kata Tobi
"Aku duluan ya!" jawab ku
Saat itu aku dan Tobi tak pernah bertemu lagi. 1 tahun sudah berlalu, dan tibahlah di mana hari kelulusan ku. Waktu itu ayah kembali jatuh sakit. Disisi lain aku bahagia karena aku lulus, tapi disisi lain aku sedih karena ayah kembali sakit. Tobi yang ternyata sekarang telah menjadi dokter di sebuah rumah sakit di mana di situ ayah ku di rawat.
Waktu itu jam menunjukkan pukul 07.00 ayah ku di periksa oleh dokter Tobi. Tapi mirisnya dokter Tobi tak mengenali ku lagi. Wajah dokter itu mirip sekali dengan Tobi yang cintanya pernah ku tolak. Tapi aku tak menyesal dengan semua itu. Waktu yang sudah berlalu biarlah berlalu. (Hujan pun mulai turun). Tik,tik,tik suara atap rumah sakit. Saat ayah memanggil nama ku yaitu Safa, dokter Tobi yang sedang memeriksa ayah tiba-tiba terdiam. Diapun menghampiri diriku.
"Apakah kau Safa Adelia?" tanya dokter itu
"Yaa benar itu aku. Kamu juga Muhammad Tobi Rama kan?" jawab ku
"Alhamdulillah!!! Tuhan itu adil, akhirnya aku bisa bertemu kamu lagi. Terus gimana kabar kamu? Setelah sekian lama menghilang tanpa kabar." tanya dokter Tobi
"Aku baik. Terus kamu gimana kabarnya?" jawab ku
"Seperti yang kamu lihat." jawab dokter Tobi
"Oh iya." kata ku
"Terus gimana sama sekolah dan karier kamu?" tanya dokter Tobi
"Aku udah lulus sekolah 2 tahun lalu. Soal karier aku sii sekarang lagi ikut tes tentara dan kuliah di jurusan kedokteran." jawab ku
"Wahhh hebat dong kalo gitu! Berarti kamu sekarang udah sukses dalam dunia karier dong. Jadi kamu mau ngak sekarang buat jadi pacar aku?" kata dokter Tobi
"Hmmm." kata ku
"Terus gimana kabarnya Rina?" tanya ku
"Semenjak kamu nolak aku, aku sadar bahwa cita-cita lebih penting dari bercinta. Semenjak itu juga aku udah ngak tahu kabarnya Rina soalnya pas kamu nolak aku, aku kuliah di London buat nyelesain S3 di sana." kata dokter Tobi
"Ohh gitu."
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6