Aku sayang guru. Guru itu orang tua kedua ku, yang mengajari ku banyak hal. Guru itu bagaikan ibuku yang ada dirumah. Dia penuh kesabaran dan kegigihan dalam membimbing ku, sejak aku belum tau huruf A sampai kini aku telah pandai membaca. Waktu aku belum tau angka 1 hingga kini aku telah pandai menghitung. Dia tak pernah lelah dalam membimbingku. Dia juga tak pernah bosan dalam mengajari ku dan memberikan ilmunya kepada ku. Dia itu pahlawan tanpa jasa dia yang mengajari ku untuk selalu jujur dalam berbagai hal, dia juga yang mengajari ku untuk selalu saling menghormati baik dia lebih tua dari aku,maupun dia yang lebih mudah dari ku. Dia juga yang mengajarkan aku untuk selalu semangat dalam berbagai hal tanpa harus mengeluarkan kata menyerah. Guru itu bagai air yang membasahi tanah, bagai matahari yang menyinari bumi. Guru itu pahlawan, dia yang mengajari, membimbing, hingga melatih.
Tiada yang bisa ku berikan kepadanya. Hanya doa yang dapat ku berikan padanya atas semua pengorbanan yang pernah dia lakukan. Tapi atas pengorbanannya itu, dia tak pernah meminta apapun. Dia hanya ingin melihat kesuksesan berada di tangan murid-muridnya. Saat libur, aku tak pernah ingin keluar daru rumah seperti teman-teman sebaya ku yang lain yang menghabiskan liburan mereka dengan bermain. Aku hanya di rumah dan menghabiskan waktu liburan dengan membaca dan menulis. Aku sebenarnya ingin bermain dengan teman-teman sebaya ku, tapi aku sadar waktu itu emas kalo di sia-siakan begitu saja pasti tak ada manfaatnya. Maka karena itu saat libur aku hanya menghabiskan waktu di rumah untuk membaca dan menulis.
"Vidia? kamu ngak keluar buat maen? Atau ngumpul-ngumpul bareng sama temen-temen kamu gitu?" kata mama
"Ngak aa lebih baik aku dirumah aja dan belajar, membaca,dan menulis." jawab ku
"Hmmm." kata ibu dengan tersenyum
***
Waktu itu aku yang menduduki
bangku kelas 3 SMP, berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya. Saat lonceng istirahat berbunyi aku hanya menghabiskan waktu diperpustakaan untuk membaca sekaligus menghabiskan jam istirahat. Dan soal uang saku yang di berikan mama buat jajan, aku tabung. Karena aku pernah membaca salah satu buku yang ada di perpustakaan, dan di dalam buku itu ada tulisan yang mengatakan "hemat pangkal kaya". Dari situlah aku sadar bahwa jika aku hemat mungkin aku bisa kaya, dan jika aku kaya otomatis aku bisa membuat kedua orang tua ku untuk pergi berhaji ke tanah suci (Mekah). Kemudian sejak saat itu, aku mulai membawa bekal dari rumah dan uangnya aku tabung. Aku ingin kedua orang tua ku pergi ke tanah suci.
Terimakasih guru karena kamulah aku sekarang mengerti akan berbagai hal. Berkat dirimu lah aku sekarang bisa berhemat dan menabung. Dan uang yang aku tabungpun itu, akan ku berikan kepada kedua orang tuaku disaat mereka kesusahan. Sekarang aku bisa uang ku saat mereka butuh. Walaupun uang yang aku beri kepada mereka belum seberapa, tapi aku sudah bahagia karena aku bisa membantu mereka.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Terima kasih cikgu
BalasHapusBukan lagi pahlawan tanpa (tanda) jasa, tapi pencipta insan cendekia. Sudah ada lho versi baru di lagunya
BalasHapusIya
HapusMantaps kak,ibuku guru, diapun walau saat libur juga tetap sibuk.. Tapi kak selagi masih muda,jangan terlalu mengisolasi diri walaupun itu memang nyaman,kita manusia biasa juga butuh hiburan.. Saran aja, saat liburan lebih dekatkan diri dengan masyarakat saat muda, misalnya ikut organisasi/ kegiatan lainnya yg bermanfaat. Belajar juga tidak hanya dari buku kak... Soalnya saat smp saya sedikit mengisoalasi diri dengan kenyamanan saya, dan sadar saat sekarang udah kuliah, kalo kita juga butuh yang namanya bersosial, karena dunia yang sesungguhnya tidak selalu sejalan dengan teori.. Eh gitu nggk sih?.. Maaf ya kalo kyk ceramah..
BalasHapusIya mbak
Hapus